CALLISTA AZKA F. - KOMISARIS JENDERAL POLISI R. SOEKARNO
Pada hari
Kamis siang minggu pertama bulan Maret, saya sedang berfikir mengenai tugas
sejarah indonesia yang diberikan oleh guru kami yaitu, Pak Shobirien. Ia
memberikan kami sebuah tugas untuk menulis sebuah artikel mengenai satu artefak
yang berada di Museum Polisi RI atau Museum Proklamasi. Murid diberikan
kebebasan untuk memilih tetapi tidak diperbolehkan menulis mengenai artefak
yang sama. Kami juga diberikan batas minimal untuk menulis artikel ini yaitu sepuluh
ribu karakter. Kami tidak diberikan format menulis sehingga kami dapat
menggunakan ukuran font size sesuka hati karena yang paling penting artikel ini
kemudian dipublikasikan ke dalam akun blog kelas yang sudah disiapkan untuk
tugas ini. Pak Shobirien juga melarang kami untuk meminta izin kepada sekolah
supaya dapat pergi ke museum pada jam sekolah. Jadi saya langsung merasa
khawatir karena minggu depan, penilaian semester tengah atau PTS sudah dimulai.
Maka sejak Kami situ sayapun langsung mencari solusinya. Saya kemudian
bertanya-tanya kepada teman, “Udah ngerjain tugasnya Pak Shobirien belom?”, “Lu
jadinya ke museum yang mana? Milihnya objek yang mana?”. Setelah bertanya-tanya
ternyata banyak juga yang belum mengunjungi museum. Akhirnya saya bertanya
kepada Nada, teman sebangku saya yang sukanya bawa bekal lezat setiap hari, “Da,
udah ngerjain tugas sejindo?”, “Oiya, gue belom.”, jawabnya. Kami berdua
akhirnya mengajak pihak ketiga ke dalam percakapan. Pihak ketiga itu adalah Disti,
temanku yang hobinya gambar. Kami bertiga ingin mengunjungi museum bersama-sama
dan akhirnya kami sepakat akan mengunjungi Museum Polisi RI besok pada hari Jum’at.
Kami membuat sebuah groupchat yang berisi
hanya kami bertiga. Disitu, kami saling mengingatkan untuk membawa baju ganti
untuk pergi ke museumnya.
Keesokan
harinya, saya bangun pada jam empat pagi. Waktu yang sangat cukup untuk, mandi,
makan dan bersiap-siap untuk lari pagi sekolah. Saya sangat menyukai lari pagi
sekolah, saya merasa lebih termotivasi untuk berolahraga. Semua barang-barangku
sudah disiapkan sejak semalam, maka di pagi hari, saya tidak perlu menghabiskan
waktu lagi. Ayah mengantarku ke sekolah pada jam lima pagi dan kami sampai
sekolah pada jam lima lewat dua puluh menit. Selama perjalanan dua puluh menit
itu saya berfikir akan betapa bosannya saya di sekolah. Selama dua minggu
sebelum ulangan ini, banyak sekali guru yang tidak hadir dalam kelas kami. Keadaan
ini membuatku amat sangat kesal. Maka, untuk apa sekolah? Namun saya tetap
berharap bahwa pada hari Jum’at ini, guru-guru akan tetap mengajariku. Begitu
sampai sekolah, saya berpamitan dengan ayah saya dan kemudian bergegas ke
lantai dua untuk menaruh tas punggung saya di depan laboratorium computer yang
terletak di samping ruang enam belas. Setelah itu saya langsung berkumpul
bersama teman-teman yang berada di konblok sedang bersiap-siap untuk lari pagi.
Setelah
lari pagi dan pendinginan, saya langsung mengganti pakaian olahraga menjadi
seragam islam hari Jum’at, lalu menunggu untuk pelajaran selanjutnya yaitu,
sejarah peminatan oleh Pak Marwan. Setelah menunggu lama, akhirnya ia datang,
tetapi telat. Jam pelajaran setelahnya dipenuhi suara keributan kelas anak IPS
tanpa gurunya, berusaha saling menghibur. Sepulang sekolah hari itu sangat
cerah bahkan teriknya matahari menyengat kulit dan membara genteng merah bata
labschool. Untung saja saya bawa baju ganti, kalau tidak saya sudah terpanggang
duluan di dalam baju panjang dan jaket angkatan putihku ini. Pada hari itu
masih ada ekstrakurikuler kuliner, maka sebelum kami pergi ke museum polri RI,
saya dan Nada menunggu kedatangan kak Mayang, guru kuliner kami yang juga
merupakan alumni labschool. Setelah 2 jam memasak lasagna, kami berdua bergegas
mencari Disti. Kemudian kami bertiga pergi menuju lokasi kami yaitu, museum
polri RI menggunakan mobil milik Disti, yang tentu saja disupiri oleh supirnya
Disti.
Begitu
sampai di lokasi, kami tidak yakin bahwa tempatnya sedang dalam keadaan buka
karena tempatnya terlihat amat sangat sepi, tetapi begitu saya membuka pintu
masuk, kami berpapasan dengan anak MIPA yang juga sedang mengunjungi museum
polri RI untuk mengerjakan tugas Pak Shobirien. Ternyata begitu masuk ya cuman
anak labschool saja. Begitu anak MIPA pergi, museum langsung berasa sepi, ya
karena memang pengunjungnya museum porli ini hanya mereka tadi. Suasana
sangatlah sepi di dalam. Begitu masuk, kami disuruh mengisi angket nama,
sekolah, dan pesan kesan yang akan diisi nanti setelah tur dalam museum
selesai. Setelah itu, kami diajak oleh salah seorang kakak yang menjadi tour guide kami dalam museum itu.
Sungguh rasanya seperti kami mendapatkan tur pribadi atau seperti pemilik
museum itu sendiri, saking sepinya. Menuju ke dalam museum, kami ditunjukkan
bermacam-macam artefak yang ada, mulai dari lantai satu, sampai dengan lantai
empat. Melewati kendaraan, alat pengumpulan informasi, senjata, tetapi saya
belum menemukan artefak yang belum ditulis oleh teman-teman yang lain. Tidak
ada escalator maupun lift, kami menaiki tangga ke lantai berikutnya. Kemudian,
kami ditunjukkan seragam-seragam yang digunakan oleh bermacam-macam polisi, mau
perempuan ataupun laki-laki. Pada lantai ketiga, kami ditunjukkan alat-alat
yang digunakan untuk menganalisa narkoba dan bom rakitan. Melihatnya membuat
saya sadar akan sayangnya ilmu yang hebat namun digunakan untuk hal-hal yang
buruk seperti ini.
Kemudian pada
lantai terakhir yaitu lantai empat, saya menemukan sebuah patung pahatan R.
Soekarno, namun bukanlah Ir. Soekarno yang merupakan presiden pertama
Indonesia. Ia adalah Komisaris Jenderal Polisi Raden Soekarno Djojonegoro yang lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah,
pada tanggal 15 Mei
1908 dan meninggal
di Jakarta,
pada tanggal 27 November 1975 di umur 67 tahun. Ia adalah
Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia yang dulu di namakan Kepala Kepolisian Negara dari 15 Desember
1959 sampai 29 Desember
1963. Komisaris Jenderal Polisi atau disebut
juga Komjen Pol adalah tingkat
ketiga bagi perwira tinggi di Kepolisian Republik Indonesia. Pangkat ini
setara dengan Letnan Jenderal pada Militer. Tanda kepangkatan
yang dipakai adalah tiga bintang. Sebelum tahun 2001, pangkat ini disebut Letnan Jenderal Polisi. Sering
digunakan penyebutan Komisaris Jenderal
Polisi untuk pangkat ini. Dalam lingkungan Polri, Komjen Pol menduduki jabatan Wakil
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Inspektur Pengawasan
Umum (Irwasum), Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim), Kabaharkam, dan
Kepala BNN.
Setelah direstrukturisasi, pemegang Komjen bertambah kepada Kepala Lembaga
Pendidikan Kepolisian (Kalemdikpol) dan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan
(Kabaintelkam) serta Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris). Soekarno
Djojonegoro adalah anak keempat Bupati Banjarnegara, Raden Adipati Djojonagoro
II. Karier kepolisiannya dimulai pada tahun 1928, setelah ia
menamatkan pendidikannya di Osvia. Jabatan pertamanya
adalah AIB di Jatibarang. Ia kemudian menjadi Mantri Polisi Residen
Jepara
Rembang
pada tahun 1931, Asisten Wedana Banyumas pada tahun 1934, Asisten Residen Lampung
pada tahun 1935, Mantri Polisi Kedungwuni, Pekalongan
pada tahun 1936, Asisten Wedana Polisi Tegal pada tahun 1941,
Kepala Seksi IV Polisi Kota Semarang pada tahun 1942, Kepala Polisi Salatiga
pada tahun 1943, Kepala Polisi Istimewa Kota Semarang pada tahun 1944,
Keibikatyo Kota Semarang pada tahun 1944, Kepala Polisi Kendal
pada tahun 1945, Kepala Umum Kantor Besar Polisi Semarang pada tahun 1945,
Kepala Polisi Karesidenan Pekalongan pada bulan Februari tahun 1950, Kepala
Polisi Karesidenan Surabaya pada bulan Agustus tahun 1950, Kepala
Kepolisian Provinsi Jawa Timur pada bulan Desember tahun 1950, dan
Ajun Kepala Kepolisian Negara pada bulan November tahun1959). Pada 15 Desember
1959,
Djojonegoro dilantik menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.
Beberapa peristiwa semasa ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara adalah
yaitu, pada tahun 1960
di mana Kepolisan Negara bergabung dalam ABRI, pada tanggal 1 Juli
1960 yaitu empat janji prajurit kepolisian, "Catur Prasetya"
diikrarkan, kemudian pada tanggal April 1961 di mana Catur
Prasetya resmi dijadikan pedoman kerja kepolisian RI selain Tribrata sebagai pedoman
hidup, dan yang terakhir pada tahun 1962 yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia berubah nama
menjadi Angkatan Kepolisian RI (AKRI). Masa kepemimpinannya ditandai konflik Irian Barat
dengan Belanda dan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan PKI, DI/TII,
APRA dan lain-lain, namun hal-hal tersebut ditanganinya dengan baik. Ia
kemudian digantikan Ajun Komisaris Besar Polisi Soetjipto Danoekoesoemo pada 30 Desember
1963 dan segera
diangkat menjadi Menteri Penasihat Presiden untuk Urusan Dalam Negeri.
Djojonegoro memasuki masa pensiun mulai 31 Juli 1966. Hari-harinya dinikmatinya
dengan berkumpul bersama keluarga. Djojonegoro meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta. Ia meninggalkan istrinya, R.A. Sukatinah, dan lima orang anak. Sesuai
permintaannya, jenazahnya dimakamkan di makam khusus untuk pemakaman keluarga
Djojonagoro, "Kuwondo Giri" di Banjarnegara.
Patungnya hanya ditaruh di atas
balok kayu begitu saja, tidak di tutup lagi oleh kaca sehingga berdebu.
Sepertinya juga tidak ada yang membersihkannya. Setelah selesai turnya, kami
bertiga diantar tour guide kami
menuju ke meja resepsionis untuk menulis pesan dan kesan kami terhadap museum
ini. Setelah semua itu selesai, kami kembali ke mobil Disti dan menuju kembali
ke labschool. Selama perjalanan saya hanya berfikir tentang bagaimana saya akan
menaruh semua informasi yang kudapatkan di museum ke dalam satu tulisan untuk
artikel tugas Pak Shobirien. Begitu cepat waktu berlalu, kamipun sudah sampai
di sekolah. Saya dan Nada turun dari mobil Disti dan berpamitan, kemudian kami
berdua yang berpamitan, dimana kemudian Nada melangkah menjauh menuju
transjakarta, dan saya melangkah masuk ke dalam uber pesanan saya yang
ditujukan menuju rumah saya.



Komentar
Posting Komentar