Moza Abel T - Ruangan Saksi Perumusan Naskah Proklamasi


Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018 saya dan teman-teman berkunjung ke sebuah museum yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.1, Menteng, tepatnya berdekatan dengan Taman Suropati dan Patung Pangeran Diponegoro yang mengarah ke Bundaran HI, yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Dari luar, museum ini tampak seperti rumah tua yang megah. Museum ini didominasi oleh jendela yang besar, mencirikan khas bangunan ala Eropa bergaya Art Deco. Museum ini sudah dibangun sejak tahun 1920. Dengan luas tanah 3.914 M2 sedangkan luas bangunannya 1.138,10 M2. Memasuki museumnya, Anda hanya dikenakan biaya Rp 2.000 saja, baik hari kerja maupun hari libur. Museum Naskah Proklamasi ini buka setiap hari kecuali hari senin dan hari libur nasional.  Museum ini adalah salah satu museum yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang pada umumnya merupakan kalangan pelajar yang melakukan  kungjungan studi wisata bahkan ketika hari libur tiba. Museum Naskah Proklamasi merupakan salah satu museum yang ramai dikunjungi selain Museum Gajah, Museum Sejarah Nasional, maupun Museum Satria Mandala.

 Museum ini memiliki 2 lantai. Di lantai pertama , terdapat empat ruangan ; yaitu ruang pertemuan, ruang perumusan naskah proklamasi, ruang pengetikan naskah proklamasi , dan ruang pengesahan naskah proklamasi. Di belakang Museum juga terdapat halaman belakang yang luas yang disertai lukisan dan graffiti di dinding yang masih berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia. Selain itu di lantai 2 terdapat beberapa bukti benda penginggalan tokoh-tokoh penting dan benda yang berhubungan dengan peristiwa sekitar  proklamasi, seperti piringan hitam maupun kaset perekam peristiwa proklamasi. Saat memasuki museum, kami terlebih dahulu diarahkan oleh tour guide menuju ke ruang auditorium untuk menyaksikan sebuah film pendek mengenai peristiwa sekitar proklamasi mulai dari Peristiwa Rengasdengklok hingga hari kemerdekaan tiba, lalu setelah itu kami baru diajak untuk mengelilingi Museum Naskah Proklamasi.

Museum Naskah Proklamasi merupakan salah satu tempat yang menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia di hari-hari menuju kemerdekaan. Museum ini dibangun oleh arsitektur berkebangsaan Belanda bernama JFL Blankenberg pada tahun 1920-an. Tahun 1931, Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini merupakan bangunan yang ditempati Laksamana Maeda yang dulunya merupakan Kepala penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda sampai Sekutu mendarat di Indonesia pada bulan September 1945. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Pemindahan status pemilikan gedung ini, terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap kepemilikan bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan 1981. Selanjutnya, gedung ini diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 Desember 1981. Pada tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia karena pada 16 dan 17 Agustus 1945, terjadi peristiwa sejarah yang sangat penting yaitu perumusan naskah proklamasi. Oleh karena itu pada tahun 1984 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof.Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman untuk merealisasikan gedung yang bersejarah ini menjadi Museum Naskah Proklamasi yang hingga saat ini masih dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Proses Indonesia hingga menju kemerdekaan tidaklah mudah. Butuh proses panjang hingga akhinya mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada Agustus 1945, tepatnya tanggal 14, Jepang menyerah kepada Sekutu dan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari dan Indonesia dalam status quo.  Kondisi ini lalu ingin dimanfaatkan oleh golongan muda yang menginginkan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan secepatnya, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945, namun setelah berbagai pertimbangan mengenai butuhnya persiapan, akhirnya golongan muda dan golongan tua bersepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 atau pada keesokan harinya. Setelah Ir.Soekarno dan Moh.Hatta diasingkan di Rengasdengklok, Ahmad Soebardjo berhasil menjemput mereka dan meyakinkan golongan muda bahwa Proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan keesokan harinya.  Setelah itu, mereka dibawa kembali untuk memepresiapkan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Pada mulanya, perumusan naskah proklamasi ingin dilaksanakan di Hotel Des Indes  yang merupakan tempat menginapnya anggota PPKI yang tadinya akan digunakan sebagai tempat pertemuan. Pihak hotel menolak mereka karena pemberlakuan jam malam. Mereka tidak menemukan tempat rapat yang memadai, sehingga akhirnya mereka diperbolehkan untuk mengadakan rapat di Rumah Laskamana Muda Tadashi Maeda

Pada tanggal 16 Agustus 1945, sekitar pukul 22.00 WIB, sepulang dari Rengasdengklok, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr. Ahmas Soebarjo diterima oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda. Para wakil bangsa Indonesia tersebut memberikan penjelasan kepada Maeda akan diadakannya pertemuan menjelang Indonesia merdeka. Dan Maeda mengizinkan rumahnya untuk tujuan tersebut dan Maeda pun menerima penjelasan dari para wakil bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan sekarang juga. Setelah saling memberi hormat. Soekarno mengucapkan terima kasih atas kesediaan Maeda meminjamkan rumah kediamannya untuk rapat mempersiapkan Proklamasi. Maeda menjawab "Itu sudah kewajiban saya yang mencintai Indonesia Merdeka".

 Disamping itu Maeda memberitahukan pesan dari Gunseikan bahwa rombongan yang pulang dari Rengasdengklok harus segera menemuinya.  Selanjutnya mereka berangkat, namun mereka hanya bertemu Jendral Nisyimura yang mengatakan bahwa proklamasi Indonesia tidak boleh dilangsungkan karena Jepang diperintahkan oleh sekutu untuk tidak merubah status quo hingga pihak sekutu dating nantinya pada bulan September 1945 sehingga ia tidak mendukung usul tersebut . Sikap penolakan Nishimura tersebut menyadarkan Soekarno-Hatta bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia memang benar harus diusahakan sendiri oleh Indonesia tanpa bantuan atau pemberian negara lain, termasuk Jepang. Dengan demikian, proklamasi kemerdekaan Indonesia harus lepas dari pengaruh Jepang.

Soekarno-Hatta bersama para pemuda kemudian menuju kediaman Laksamana Tadashi Maeda untuk merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia
pada pukul 02.30 WIB dan sudah ditunggu oleh tokoh-tokoh yang sudah menunggu perumusan naskah proklamasi. Tokoh-tokoh lain yang hadir pada saat itu adalah para anggota PPKI dan tokoh pemuda (seperti Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro).  Untuk selanjutnya, Maeda tidak turut campur tangan dan segera mohon diri untuk menuju kamarnya di lantai atas.






Gambar 1: Ruangan Perumusan Naskah Proklamasi, kanan (Moh.Hatta), Tengah (Ir.Soekarno), dan Kiri (Ahmad Soebardjo)


Ny. Satzuki Mishima mengatakan bahwa ruang ini, digunakan Maeda sebagai ruang makan dan tempat rapat. Di ruang ini, terdapat sebuah meja berbentuk bundar yang dilengkap dengan lima buah kursi tanpa sandaran tangan, terbuat dari kayu jati dengan warna coklat tua. Sedangkan meja dan kursi itu, ditempatkan di sudut kiri belakang ruang itu. Di ruangan ini terdapat pula sebuah meja panjang yang dilengkapi dengan 12 kursi, alas duduk dan sandaran yang dilapisi kulit warna coklat tua, begitu pula meja dan kursinya yang berwarna coklat. Selain itu terdapat tiga patung, yaitu Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subarjo. Ketiga patung ini menggambarkan suasana perumusan naskah proklamasi pada saat itu. Soekarno terlihat sedang menulis, sedangkan Hatta dan Ahmad Subarjo terlihat sedang memberi masukan.


Di ruangan ini, dini hari sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945 , Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr. Soebardjo mengonsep dan merumuskan Naskah Proklamasi. Konsep naskah proklamasi ini ditulis dalam bentuk tulisan tangan Bung Karno, sedangkan  Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo menyalurkan aspirasi mereka masing-masing.

Dalam Teks Proklamasi, kalimat pertamanya merupakan saran Ahmad Soebardjo dari rumusan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yaitu ““ Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami”. Sedangkan Moh.Hatta mengusulkan kalimat kedua yang berbunyi ” Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” dan pada akhirnya   Soekarno lah yang menggabungkan kedua kalimat di atas.  Sayuti Melik lalu mengetik naskah proklamasi kemerdekaan atas permintaan Soekarno, ditemani BM Diah. Sayuti membuat tiga perubahan pada naskah untuk menyempurnakannya, yaitu "tempoh" menjadi "tempo", "Wakil-wakil bangsa Indonesia" diubah menjadi "Atas nama bangsa Indonesia", dan format tanggal juga ikut diganti yang semula “Djakarta, 17-8-’45 “ diubah menjadi “Djakarta, hari 17 Boelan 8 tahun “45. sehingga berbunyi seperti teks proklamasi saat ini.

Maka dari itu peristiwa yang terjadi di Rumah Laksamana Maeda tersebut merupakan salah satu sejarah penting yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain pemerintah yang bertugas untuk melestarikan bangunan-bangunan bersejarah tersebut, alangkah baiknya jika kita sebagai masyarakat Indonesia untuk mengetahui peristiwa sejarah bangsa Indonesia sendiri dan tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke museum-museum sejarah yang  ada agar kita dapat menambah wawasan mengenai hal-hal terkait dengan sejarah Bangsa Indonesia.

Sekian cerita yang dapat penulis sampaikan dan semoga artikel ini sekiranya dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca mengenai peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia.







Gambar 2 : Penulis di Ruang Perumusan Naskah Proklamasi 

Komentar

Postingan Populer